Rabu, 29 Desember 2010

BURHANI

A. BERKENALAN DENGAN EPISTEMOLOGI ISLAM

Pengantar

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan lazim dikenal dengan epistemologis.

Epistemologi secara kebahasaan berasal dari term Yunani [Greek], episteme yang sepadan dengan term knowledge: logos: dan account. Epistemologi atau theory of knowledge ini sering diuraikan sebagai is that branch of philosophy which concerned with nature and scope of knowledge, its presupposition and basis and general reliability of claim to knowledge.

Bidang epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.

Secara umum epistimologi dalam Islam memiliki tiga kecenderungan yang kuat. yaitu bayani. irfani, dan burhani:

Pembahasan ini akan membicarakan rekonstruksi al-Jabiri tentang tipologi “epistemology Islam” yaitu bayani, ‘irfani dan burhani. Pemikiran al-Jabiri ini dituangkan secara luas dalam bukunya: Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, (Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Araby, 1993) sebagai bagian dari agenda besarnya, yaitu naqd al-aql al-‘araby (kritik nalar Arab). Di sini terlihat bahwa focus pembicaraan al-Jabiri sebenarnya nalar Arab, bukan nalar Islam. Hal ini, karena sasaran kajiannya memang tradisi Arab struktur nalar yang membangunnya. Namun karena Islam sebagai bagian dari tradisi Arab, dan dalam perkembangannyaa keduanya saling mempengaruhi, maka pembicaraan mengenai Islam jelas suatu keniscayaan. Pemikiran al-Jabiri ini kemudian banyak memberikan inspirasi bagi pemikir Muslim kontemporer lainnya untuk melihat kembali struktur bangunan epistemology Islam, sebagai dasar bagi bangunan ilmu-ilmu keislaman.

Meski demikian, membaca al-Jabiri perlu tetap mempertimbangkan agendanya, yakni “kritik”, dalam hal ini kritik nalar Arab. Maka wajar jika kadang-kadang timbul kesan,bahwa karya ini bersifat provokatif. Apalagi, sebagaimana kesan beberapa penulis, al-Jabiri sendiri berkecenderungan kepada burhani, suatu khazanah ‘nalar’ Arab yang selama ini dianaktirikan disbanding dua nalar yang lain: bayani dan irfani.

Berbeda dengan dua epistemology sebelumnya, bayani dan irfani, yang masih berkaitan denga teks suci, Burhani sama sekali mendasarkan dari pada teks, juga tidak pada pengalaman. Burhani menyandarkan dari apa kekuatan rasio,akal,yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.Bahkan, dalil-dalil agama hanya bias diterima sepanjang ia sesuai dengan logika rasional. Perbandingan ketiga epistemology ini,seperti sejelasnya Jabiri,bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi realitas non –fisik atas realitas fisik(qiyas al-ghaib ala al-syahid) atau furu’ kepa yang asal ; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan dengan penyatuan universal(kulliyat);burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahua sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya’

B.SEKILAS PERJALANAN BURHANI

Al-Burhani (demonstrative), secara sederhana, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran proposisi(qadliyah)melalui pendekatan deduktif(al-istintaj) dengan mengaitkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang telah terbukti kebenarannya secara aksiomatik(badhihi).

Menurut al-Jabiri, prinsip-prinsip burhani pertama kali dibangun oleh Aristoteles(384-322 SM) yang dikenal dengan istilah metode analitik(tahlili); suatu cara piker (pengambilan keputusan) yang disasarkan atas proposisi tertentu,proposisi hamliyah(categorical proposition) atau proposisi syarthiyah(hypothetical proposition) dengan mengambil 10 kategori, sebagai objek kajiannya;kuantitas,kualitas,ruang atau tempat,wakyu,dan seterusnya. Pada masa Alexander Aphrodisi,murid, murid komentator Aristoteles, digunakan istilah logika dan ketika masuk dalam khazanah pemikiran islam berganti nama menjadi Burhani.

Cara berpikir analitik Aristoteles ini masuk dalam pemikiran islam pertama kali  lewat program penterjemahan buku-buku filsafat yanggencar dilakukan pada masa kekuasaan al-Makmun(811-833 M); sesuatu program yang dianggap sebagai tonggak sejarah pertemuan pemikiran rasional Yunani dengan pemikiran keagamaan arab, pertemuan epistemologi burhani Yunani dengan epistemologi bayani Arab. Program penterjemahan dan kebutuhan akan penggunaan metode burhani ini sendiri, didasarkan atas tuntutan kebutuhan yang ada; bahwa saaat itu muncul banyak doktrin yang kurang lebih hiterodok yang dating dari Iran,India,Persia atau daerah lain dari pinggiran Islam,seperti Madinah,Manikian,materialisme,atau bahkan dari pusat islam sendiri sebagai akibat dari pencarian bebas yang berubah bentuk menjadi pemikiran bebas seperti penolakan terhadap wahyu dan lainnya yang dikategorikan dalam istilah zindiq. Untuk menjawab serangan doktrin-doktrin ini, para sarjana muslim(ulama) merasa perlu untuk mencari system rasional dan argument –argumen yang masuk akal, karena metode sebelumnya, bayani, tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang sangat beragam yang dikenal sebelumnya.

Sarjana pertama yang mengenalkan dan menggunakan metode burhani adalah al-Kindi (806-875M). Dalam kata pengantar buku filsafat pertama (al-falsafat al-Ula),yang dipersembahkan untuk al-Mu’tashim (833-842), al-Kindi menulis tentang objek bahasan dan kedudukan filsafat, serta ketidak-senangannya pada orang-orang yang anti filsafat, yakni para pendukung bayani. Namun, karena masih begitu dominannya kaum bayani(burhani)yang diperlukan al-kindi tidak begitu bergema. Meski demikian al-Kindi telah memperkenalkan persoalan baru dalam pemikiran Islam;Kesejajaran antara pengetahuan manusia dan Tuhan, dan mewariskan persoalan filsafat yang terus hidup sampai sekarang;(1)Penciptaan alam semesta, bagaiman terjadinya,(2) keabadian jiwa, apa artinya dan bagaimana pembuktiannya,(3)pengetahuan Tuhan yang particular,apa ada hubungannya dengan astrologi dan bagaimana terjadi.

 Metode rasional atau burhani ini semakin masuk sebagai salah satu sistem pemikiran islam Arab adalah setelah masa AL-Razi(865-925 M). Ia lebih ekstrim dalam teologi dan dikenal sebagai seseorang rasionalis murni yang hanya mempercayai akal. Menurut al-Razi ,semua pengetahuan pada prinsipnya dapat diperoleh manusia selama ia menjadi manusia. Akal yang menjadi hakekat kemanusiaan, dan akal adalah satu-satunya alat untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia fisik dan tentang konsep baik dan buruk;setiap sumber pengetahuan lain yang bukan akal hanya omong kosong, dugaaan belaka dan kebohongan.

Metode burhani akhirnya benar-benarb mendapat tempat dalam system pemikiran islam setelah masa Al-Farabi(870-950 M). Filosof paripatetik yang dikenal sebagai “guru kedua’(al-muallim al-tsani) setelah Aristoteles sebagai ‘guru pertama’(muallim awwal) karenjaq pengaruhnya yang besar dalam peletakan dasar-dasar filsafat islam setelah Aristoteles, tidak hanya mempergunakan epistemology burhani dan filsafatnya, bahkan menempatkannya sebagai metode paling baik dan unggul, sebagai ilmu-ilmu filsafat yang memakai metode burhani dinilai lebih tinggi kedudukannya disbanding ilmu-ilmu agama;
Ilm al-kalam(teologi) dan fiqh(yurisprudensi),yang tidak mempergunakan metode burhani. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ibnu Rusyd(1126-1198 M) ketika secara jelas menyatakan bahwa metode burhani(demonstrative)untuk kalangan elite terpelajar, metode dialektika(jadal)untuk kalangan menengah dan metode retorik(khithabi) untuk kalangan awam.
C. EPISTEMOLOGI BURHANI
Pengertian

Dalam bahasa Arab, al-burhan berarti argument (al-hujjah) yang jelas (al-bayyinah; clear) dan distinc (al-fashl), yang dalam bahasa inggris adalah demonstration, yang mempunyai akar bahasa Latin: demonstration (berarti member isyarat, sifat, keterangan, dan penjelasan). Dalam perspektif logika (al-mantiq), burhani adalah aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan (al-istintaj), dengan menghubungkan premis tersebut dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti kebenarannya (badlihiyyah). Sedang dalam pengertian umum, burhani adalah aktivitas nalar yang menetapkan kebenaran suatu premis.

Istilah burhani yang mempunyai akar pemikiran dalam filsafat Aristoteles ini, digunakan oleh al-Jabiri sebagai sebutan terhadap sebuah system pengetahuan (nidlam ma’rifi) yang menggunakan metode tersendiri di dalam pemikiran dan memiliki pandangan dunia tertentu, tanpa bersandar kepada otoritas pengetahuan lain.

Jika dibandingkan dengan kedua epistemology yang lain; bayani dan irfani, dimana bayani menjadikan teks (nash), ijma’, dan ijtihad sebagai otoritas dasar dan bertujuan untuk meembangun konsepsi tentang alam untuk memperkuat akidah agama, yang dalam hal ini Islam. Sedang irfani menjadikan al-kasyf sebagai satu-satunya jalan di dalam memperoleh pengetahuan dan sekaligus bertujuan mencapai maqam bersatu dengan Tuhan. Maka burhani  lebih bersandar pada kekuatan natural manusia berupa indra, pengalaman, dan akal di dalam mencapai pengetahuan.

Burhani, baik sebagai metodologi maupun sebagai pandangan dunia, lahir dalam alam pikiran Yunani, tepatnya dibawa oleh Aristoteles yang kemudian terbahas secara sistematis dalam karyanya Organon, meskipun terminology yang digunakan berbeda. Aristoteles menyebutkan dengan metode analitis (tahlili) yakni metode yang menguraikan pengetahuan sampai ditemukan dasar dan asal-usulnya, sedangkan muridnya sekaligus komentator utamanya yang bernama Alexander Aphrodisi memakai istilah logika (mantiq), dan ketika masuk ke dunia Arab Islam berganti nama menjadi burhani.

D. KARAKTERISTIK EPISTEMOLOGI BURHANI

Dalam memandang proses keilmuan, kaum Burhaniyun bertolak dari cara piker filsafat di mana hakikat sebenarnya adalah  universal. Hal ini akan menempatkan ‘makna” dari realitas pada posisi otoritatif, sedangkan ”bahasa” yang bersifat particular hanya sebagai penegasan atau ekspresinya. Hal  ini nampak sejalan dengan penjelasan al-Farabi bahwa “makna/’ dating lebih dahulu daripada “kata”, sebab makna datang dari sebuah pengkopsesian intelektual yang berada dalam tataran pemikiran atau rasio yang diaktualisasikan dalam kata-kata. Al-Farabi memberikan pengandaian bahwa seandainya konsepsi intelektual itu letaknya dalam kata-kata itu sendiri maka yang lahir selanjutnya bukanlah makna-makna dan pemikiran-pemikiran baru tetapi kata-kata yang baru.

Jadi setiap ilmu burhani berpola dari nalar burhani dan nalar burhan bermula dari proses abstraksi yang bersifat akali terhadap realitas sehingga muncul makna, sedang makna sendiri butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa dipahami dan dimengerti, sehingga di sinilah ditempatkan kata-kata; dengan redaksi lain, kata-kata adalah sebagai alat komunikasi dan sarana berpikir di samping sebagai sibol pernyataan makna.

mayor (al-hadd al-akbar) untuk premis yang pertama dan premis minor (al-hadd al-ashghar) untuk premis yang kedua, yang kedua-duanya saling berhubungan dan darinya ditarik kesimpulan logis.

     Mengikuti Aristoteles, Al-Jabiri dalam hal ini menegaskan bahwa setiap yang burhani pasti silogisme, tetapi belum tentu yang silogisme itu burhani. Silogisme yang burhani (silogisme demonstrative atau qiyah burhani) selalu bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, bukan untuk tujuan tertentu seperti yang dilakukan oleh kaum sufistaiyah (sophis). Silogisme (al-qiyas) dapat disebut sebagai burhani, jika memenuhi tiga syarat: pertama, mengetahui sebab yang Secara structural, proses yang dimaksud di atas terdiri dari tiga hal, pertama proses eksperimentasi yakni pengamatan terhadap realitas; kedua proses abstraksi, yakni terjadinya gambaran atas realitas tersebut dalam pikiran; ketiga, ekspresi yaitu mengungkapkan realitas dalam kata-kata.

Berkaitan dengan cara ketiga untuk mendapatkan ilmu burhani di atas, pembahasan tentang silogisme demonstrative atau qiyas burhani menjadi sangat signifikan. Silogisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu sullogismos yang merupakan bentukan dari kata sullegin yang artinya mengumpulkan, yang menunjukkan pada kelompok, penghitungan dan penarikan kesimpulan. Kata tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi qiyas atau tepatnya adalah qiyas jama’i yang karakternya mengumpulkan dua proposisi-proposisi (qadliyah) yang kemudian disebut premis, kemudian dirumuskan hubungannya hubungannya dengan bantuan terminus medius atau term tengah atau menuju kepada sebuah konklusi yang meyakinkan. Metode ini paling popular di kalangan filsuf Peripatetik. Sementara Ibn Rusyd mendefinisikan demonstrasi dengan ketentuan dari satu argument yang konsisten, tidak diragukan lagi kebenarannya yang diperoleh dari premis yang pasti sehingga kesimpulan yang akan diperoleh juga pasti, sementara bentuk dari argument harus diliputi oleh fakta akali. Jadi silogisme demonstratif atau qiyas burhani yang dimaksud adalah silogisme yang premis-premisnya terbentuk dari konsep-konsep yang benar, yang meyakinkan, sesuai dengan realitas (bukan nash) dan diterima oleh akal.

Aplikasi dari bentukan silogisme ini haruslah melewati tiga tahapan yaitu tahap pengertian (ma’qulat), tahap pernyataan (ibarat) dan tahap penalaran (tahlilat).

Tahapan pengertian merupakan proses awal yang letaknya dalam pikiran sehingga di sinilah sebenarnya terjadi pengabstraksian, yaitu merupakan aktivitas berpikir atas realitas hasil pengalaman, pengindraan, dan penalaran untuk mendapatkan suatu gambaran. Sebagaimana Aristoteles, pengertian ini selale merujuk pada sepuluh kategori yaitu satu substansi (jauhar) yang menopang berdirinya Sembilan aksidensi (‘ard) yang meliputi kuantitas, kualitas, aksi, passi, relasi, tempat, waktu, sikap dan keadaan.

            Tahapan pernyataan  adalah dalam rangka mengekspresikan pengertian tersebut dalam kalimat yang disebut proposisi (qadliyah). Dalam proposisi ini haruslah memuat unsure subyek (maudlu’) dan predikat (muhmal) serta adanya relasi antara keduanya, yang darinya harus hanya mempunyai satu pengertian dan mengandung kebenaran yaitu adanya kesesuaian dengan realitas dan tiadanya keragu-raguan dan persangkaan.

            Untuk mendapatkan satu pengertian dan tiadanya keraguan dan persangkaan, maka pembuatan pernyataan harus mempertimbangan al-alfadz al-khamsah yang ada dalam isagoge Aristoteles atau yang biasa disebut dengan lima konsep universal yang terdiri dari jenis (genus) yakni konsep universal yang mengandung suatu pengertian yang masing-masing sama hakikatnya, nau’ (spises) yaitu konsep universal yang mengandung satu pengertian tetapi masing-masing hakikatnya berbeda, fasl (differentia) yaitu sifat yang membedakan secara mutlak, khas (propirum) atau sifat khusus yang dimiliki oleh suatu benda tetapi hilangnya sifat ini tidak akan menghilangkan eksistensi benda tersebut dan ard (aksidensi) atau sifat khusus yang tidak bisa  diterapkan pada semua benda.

            Tahapan penalaran; ini dilakukan dengan perangkat silogisme. Sebuah silogisme harus terdiri dari dua proposisi (al-muqaddimatani) yang kemudian disebut premismenjadi alasan dalam penyusunan premis; kedua, adanya hubungan yang logis antara sebab dan kesimpulan; dan ketiga, kesimpulan yang dihasilkan harus bersifat pasti (dlaruriyyah), sehingga tidak ada kesimpulan lain selain itu. Syarat pertama dan kedua adalah yang terkait dengan silogisme (al-qiyas). Sedang syarat ketiga merupakan karakteristik silogisme burhani, dimana kesimpulan (natijah) bersifat pasti, yang  tak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian yang lain. Hal ini dapat terjadi, jika premis-premis tersebut benar dan kebenarannya telah terbukti lebih dulu ketimbang kesimpulannya, tanpa adanya premis penengah (al-hadd al-awsath).

            Dalam perspektif tiga teori kebenaran, maka kebenaran yang dihasilkan oleh pola piker burhani tampak ada kedekatannya dengan teori kebenaran koherensi atau konsistensi. Dalam burhani menuntut penalaran yang sistematis, logis, saling berhubungan dan konsisten antara premis-premisnya, juga secara benar koheren dengan pengalaman yang ada, begitu pula tesis kebenaran konsistensi atau koherensi. Kebenaran tidak akan terbentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan perkataan lain bahwa kebenaran ditegakkan atas dasar hubungan antara putusan baru dengan putusan lain yang telah ada dan diakui kebenarannya dan kepastiannya sehingga kebenaran identik dengan konsistensi, kecocokan dan saling berhubungan secara sistematis.

STRUKTUR FUNDAMENTAL
EPISTEMOLOGI BURHANI
  1. Origin (sumber)
 Nash/ Teks/ Wahyu (Otoritas Teks) Al-Akhbar, al-Ijma’ (Otoritas Salaf) Al-’Ilm al-Tauqifi
  1. Methode (proses dan prosedur)
 Ijtihadiyyah Istinbathiyyah/ Istintajiyyah/ Istidlaliyyah/ qiyasQiyas (Qiyas al-ghahib ‘ala al-syahid)
  1. Approach
 Lughawiyyah (bahasa), Dalalah Lughawiyyah
  1. Theoretical Framework
 Al-Ashl-al-far’, Istinbathiyyah (pola piker deduktif yang berpangkal pada teks), Qiyas al-Ilah (Fi-kih), Qiyas al-dalalah (ka-lam), Al-Lafdz-al-Makna, ‘Am-khash, Mustarak, Haqiqah, Majaz, Muhkam, Mufassar, Zahir, Khafi, Musykil, Muj-mal, Mutasyabih
  1. Fungsi dan Peran Akal
 Akal sebagai pengekang / pengatur hawa nafsu (lihat Lisan al-‘Arab Ibn Man-dzur), Justifikasi-Repeetitif-Taqlidi (pengukuh kebenaran/ otoritas teks), Al-‘Aql al-Diniy
  1. Type of Argument
 Dialektik (Jadaliyyah); al-‘Uqul al Mtanafisah
Defensif – Apologetik – Polemik – Dogmatik Pengaruh pola Logika Stonic (bukan logika Aristoteles)
  1. Tolok Ukur Validitas Keilmuan
 Keserupaan/ kedekatan antara teks (nash) dengan realitas
  1. Prinsip-Prinsip Dasar
 Infishal (discontinue) = Atomistik
Tajwiz (keserbabolehan) = tidak ada hokum kausalitas, Muqarabah (kedekatan, keserupaan), Analogi deduktif; Qiyas
  1. Kelompok Ilmu-ilmu Pendukung
 Kalam (Teologi), Fiqih (Jurisprudensi)/ Fuqaha; Ushuliyyun, Nahwu (Grammar); Balaghah
  1. Hubungan Subjek dan Objek
 Subjective (Theistic atau Fideistic Subjectivism)

E. LOGIKA DALAM EPISTEMOLOGI BURHANI

Menurut sejarah munculnya metode pemikiran burhani. dasar logika yang paling berpengaruh di dalamnya adalah logika Aristoteles. Istilah logika ini sebenarnya muncul belakangan dan tidak pernah disebut oleh Aristoteles.

Aristoteles sendiri memperkenalkan metode berpikirnya ini sebagai metode berpikir analitik. Logika Aristoteles sering disebut sebagai logika tradisionalis, logika formal, atau logika deduktif. Salah satu ajaran penting dalam logika Aristoteles adalah silogisme.

Aristoteles menjelaskan silogisme dengan cara yang berbeda dengan metode silogisme yang telah disebutkan sebelumnya. Model silogisme yang disebutkan pada penjelasan metode-metode inferensi sebelumnya adalah silogisme yang dikenalkan oleh logika Stoik.

Model silogisme Aristoteles serins disebut sebagai silogisme katagorik karena semua proposisinya katagorik. Silogisme terdiri dari beberapa komponen, yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Di dalam istilah yang digunakan oleh Skolastik, terdapat beberapa bentuk silogisme :
a.  Bentuk pertama, term tengah (middle term) menjadi subyek pada premis mayor dan menjadi predikat pada premis minor.
Contoh:
1.  Semua manusia fana, (premis   mayor). Sokrates   adalah   seorang   manusia,   (premis minor)
Sokrates fana. (kesimpulan)
- Model ini disebut Barbara.

2.  Tak ada ikan yang rasional. Semua hiu adalah ikan. Tak ada hiu yang rasional.
- Model ini disebut Calerent.

3.  Semua manusia rasional.
Sebagian makhluk hidup adalah manusia. Sebagian makhluk hidup rasional.
- Model ini disebut Dani.

4.  Tak ada orang Yunani berkulit hitam. Sebagian manusia adalah orang Yunani. Sebagian manusia tak berkulit hitam.
- Model ini disebut Ferio.

b. Bentuk kedua, term tengah (middle term) menjadi predikat pada premis mayor dan premis minor.
Contoh :
Semua tumbuhan membutuhkan air.
Tidak sarupun benda mati membutuhkan air.
Tidak sarupun benda mati adalah tumbuhan.

c. Bentuk ketiga, term tengah {middle term) menjadi subyek pada premis mayor dan premis minor.
Contoh :
Setiap manusia mempunyai rasa takut. Tetapi setiap manusia adalah makhluk hidup. Sebagian makhluk hidup mempunyai rasa takut.

Dengan landasan logika Aristoteles, beberapa metode yang dipakai dalam epistemologi burhani adalah metode deduksi (istintaj, qiyasjami), induksi (istiqrd), konsep universalisme (al-kulli). universalitas-universalitas induktif, prinsip kausalitas dan historitas. serta tujuan syariah (al-maqashid).

Perbedaan mendasar antara penalaran dengan epistemologi bayam dan burhani adalah inferensi pada bayani didasarkan atas lafal, sedangkan pada epistemologi burhani didasarkan pada makna.

F. PERAN BAGI EPISTEM BERIKUTNYA

Dalam perkembangan selanjitnya,metode burhani yang dianggap lebih unggul dibanding dua epistemologi yang lain ternyata mengandung kekurangan,bahwa ia tidak bisa sampai seluruh realitas wujud. Ada sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh penalaran rasional,meski rasio telah mengklaim sesuai dengan prinsip-prinsip segala sesuatu,bahkan silogisme rasional sendiri pada saat tertentu tidak bisa mejelaskan atau mendefinisikan sesuatu yang diketahuinya.

Menurut Suhrawardi(1154-1192 M),kekurangan rasionalisme burhani antara lain,(1) Bahwa ada kebenaran-kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh rasio atau didekati lewat burhani,(2) Ada eksistensi diluar pikiran yang bisa dicapai nalar tetapi tidak bisa dijelaskan burhani,seperti soal warna,bau,rasa,atau bayangan,(3) prinsip burhani yang mengatakan bahwa atribut sesuatu harus didefinisikan oleh atribut yang lain akan mengiring pada proses tanpa akhir,ad infinitum,yang itu berarti tidak ada absurditas yang bisa diketahui. Jelasnya,deduksi rasional (burhani) dan demonstrasi belaka tidak bisa menyingkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta.

Karena itu,muncul metode baru yang disebut iluminasi (isyraqi) yang memadukan metode burhani yang mengandalkan kekuatan rasio dengan metode irfani yang mengandalkan kekuatan hati lewat kasyf atau intuisi. Metode ini berusaha menggapai kebenaran yang tidak dicapai lewat jalan intuitif,dengan cara membersihkan hati kemudian menganalisa dan melandasinya dengan argumen-argumen rasional.

Namu demikian,pada masa berikutnya,metode isyraqi dirasa juga mengandung kelemahan,bahwa pengetahuan iluminatif hanya berputar pada kalangan elite terpelajar,tidak bisab disosialisasikan sampai masyarakat bawah,dan tidak bisa diterima bahkan tidakjarang malah bertentangan dengan apa yang dipahami kalanga eksoteris(Fiqh) sehingga tidak jarang justru menimbulkan kontraversial.Muncul metode kelima, filsafat transenden(hikmah al-muta’aliyah),yang dicetuskan Mulla Sandra(1571-1640 M) dengan memadukan tiga metode dasar sekaligus;metode bayani yang tekstual,metode burhani yang rasional dan metode irfani yang intuitif.

Dengan metode terakhir ini, pengetahuan atau hikmah yang diperoleh tidak hanya yang dihasilkan oleh kekuatan akal tetapi juga lewat pencerahan ruhaniah,dan semua itu disajikan dalam bentuk rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional.Bagi kaum Muta’aliyah ,pengetahuan atau hikmah tidak hanya untuk memberikan pencerahan kognisi tetapi juga realisasi;mengubah wujud penerima pencerahan itu sendiri dan merealisasikan pengetahuan yang diperoleh sehingga terjadi transformasi wujud.Semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengan mengikuti syariat,sehingga sebuah pemikiran harus menggaet metode bayani dalam sistemnya.

Dengan mengambil berbagai basis epistemologi seperti diatas,menurut Muthahhari,perselisihan yang terjadi antara paripatetik dengan iluminasi, antara filsafat dengan irfan,atau antara filsafat dengan teologi bisa diselesaikan dengan baik. Namun demikian ,hikmah al-muta’aliyah bukan merupakan singkritisme dari epistemologi sebelumnya,tetapi sebuah epistemologi filsafat yang unit dan merupakan epistemologi yang berdiri sendiri.

            Dibandingkan prinsip isyraqiyah Suhrawardi yang berusaha mengintegrasikan paripatetis ke dalam epitemologinya,menurut Jalaludin Rahmat, hikmah al-muta’aliyah Mulla Sadra tidak berbeda dengan itu, bahkan ia bisa dikatakan melanjutkan upaya Sahrawardi tersebut dan menjawab lebih banyak persoalan secara lebih mendalam. Perbedaan diantara keduanya terjadi pada basis ontologisnya, meliputi ashalat al-wujud(Fundamental eksistensi), Tasykik(gradasi eksistensi) dan barakat al-jauhariyah(gerakan substansial).

Secara garis besar, hubungan antara metode burhani dengan yang lainnya bisa dipetakan sebagai berikut;




Peta Perkembangan Epistemologi Islam


Bayani
                                                                                             Ket;
                                                                                                      Sumber/ pengaruh
          = => Kelanjutan dengan     
                                                                                                       perubahan            
Irfani

                             Isyraqi                                   muta’aliyah


 


Burhani

G. PENUTUP

Dengan mengandalkan kekuatan olah rasio,burhani telah berjasa mengembangkan pemikiran filsafat islam. Juga telah membantu perkembangan epistemologi lain,seperti bayani lewat pemikiran fiqh seperti yang dilakukan al-Ghazali(1058-1111 M) lewat al-mustashfa fi ulul al-fiqh, dan membantu metode irfani seperti yang terjadi pada Ibn Arabi(1165-1240 M) lewat uraiannya tentang wahdat al-wujud. Ia bahkan masih merupakan penopang utama bagi epistemologi berikutnya, isyraqiyah dan al-hikmah al-muta’aliyah. Aristoteles pernah mengatakan,burhani bisa menyusunh (mengembangkan ) metode dan pemikiran lain tapi ia tidak bisa disusun dari metode dan faktor lain.

Namun, itu bukan berarti burhani benar-benar sempurna tanpa cacat. Ada beberapa catatan untuk epistemologi ini.
  1. Prinsip silogisme burhani yang diambil dari Aristoteles yang lebih menggunakan sesuatu yang rasional dan kebenaran yang empiris, secara tidak langsung berarti telah menyerderhanakan dan bahkan membatasi keberagaman serta keluasan realitas. Kenyataannya,realitas tidak hanya pada apa yang konkret, yang tertangkap indera,tetapi ada juga yang realitas yang diluar itu, seperti jiwa dan konsep mental. Artinya ,di sini ada kebenaran-kebenaran lain yang tidak bisa didekati dengan silogisme,seperti yang dikatakan Suhrawardi.
  2. Silogisme tida bisa menjelaskan atau menyimpulkan eksistensi empiris diluar pikiran seperti soal warna,rasa,bau,atau bayangan. Artinya tidak semua keadaan atau objek diungkapkan lewat silogisme sebagai kritik yang disampaikan Suhrawardi dan Leibniz(1646-1717 M)
  3. Prinsip logika burhani yang mengatakan bahwa atribut sesuatu harus didefinisikan oleh atribut yang lain akan mengiring pada proses tanpa akhir, ad infinitum. Itu berarti tidak akan ada absurditas yang bisa diketahui. Logika burhani, seperti dikritik Suhrawardi, sesungguhnya tidak memberikan apa-apa, tidak menghasilkan pengetahuan baru.
  4. Sejalan dengan no.3 dengan prinsip bahwa kesimpulan yang khusus harus dideduksikan dari pernyataaan yang umum,maka apa yang yang disebut kesimpulan sebenarnya telah tercantum secara implisit  pada pernyataaan umum yang disebut premis mayor; jika belum ada ,maka sia-sialah usaha silogisme tersebut karena sesuatu yang tidak ada tidak akan melahirkan sesuatu yang baru. Ini termasuk kritik yang disampaikan Bacon(1561-1626 M) dan John Stuart Mill(1806-1873) pada logika Aristoteles yang dipakai burhani.
  5. Silogisme ternyata telah cendrung mengiring penganutnya pada cara berpikir hitam putih,benar salah,sebagaimana yang terjadi dalam model pikiran teologi(ilm al-kalam) yang memang banyak menggunakan logika ini. Akibatnya, Pemikiran teologi menjadi sangat keras dan mudah menimbulkan konflik, karena tidak mengenal kebenaran pada pihak lain. Kebenaran hanya ada pihaknya sendiri.

TABEL PERBANDINGAN KETIGA EPISTEMOLOGI

Tabel 1. Perbandingan Epistemologi Bayani. Irfani. dan Burhani

Bayani
Irfani
Burhani
Sumber
Teks Keagamaan/ Nash
Ilham/ Intuisi
Rasio
Metode
Istinbat/ Istidlal
Kasyf
Talilili (analitik). Diskursus
Pendekatan
Linguistik
Psikho-Gnostik
Loaika
■i-
Tema Sentral
Ashl-Furu* Kata - Makna
Zahir - Batin Wilayah - Nubuwah
Essensi - Aksistensi Bahasa - Loaika
Validitas
Kebenaran
Korespondensi
Intersubjektif
Koherensi Konsistensi
Pendukung
Kaum Teolos.
ahli Fiqli.
ahli Bahasa
Kaum Sufi
Para Filosof













DAFTAR PUSTAKA

Sholih, Ahmad Khudori,2004,Wacana baru Filsafat Islam.Penerbit Pustaka Pelajar.Celeban Timur UH III /548: Yogyakarta

Muslih, Muhammad, 2005, Filsafat Ilmu, Penerbit belukar: yogyakarta

Diakses dari Ahmad,Hujair  Sanaky, pada 11 maret 2009, Pemikiran dan peradaban islam Dosen UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA  website:http://islamlib.com

Diakses dari Rusydi,Muhammad pada 20 maret 2009,Epistemologi Bayani Muhammad 'Abid al-Jabiri, Alumni Magister Filsafat Islam, UlNSunan Kalijaga Yogyakarta,website: http://digilib.sunan-ampel.ac.id




0 komentar:

Poskan Komentar