Senin, 27 Desember 2010

Masyarakat Agraris

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagian besar penduduk Indonesia masih bekerja dalam sector pertanian termasuk peternakan dan perikanan. Menurut statistic sensus pertanian 1963, Indonesia memiliki 41.000 komunitas desa, 21.000 di Jawa. Dari komunitas itu dapat dibagi kedalam dua golongan berdasarkan teknologi usaha taninya. a) Desa- desa yang berdasarkan cocok tanam di lading, dan b) Desa- desa yang berdasarkan cocok tanam di sawah.
Adapun desa-desa golonngan pertama dapat di temui di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Irian dengan perkecualian beberapa daerah di Minahasa. Desa-desa yang termasuk golongan kedua terutama terletak di Jawa, Madura, Bali dan Lombok.
Teknologi bercocok tanam di lading memerlukan tanah yang luas. Biasanya para petani dahulu hidup berpindah-pindah, karena mencari lahan yang baru untuk di tanam, namun sekarang petani menetap karena teknologi pertanian yang maju untuk menyuburkan tanah seperti pupuk, adapun cara bercocok tanam dahulu juga berbeda dengan sekarang misalnya dulu hanya mengandalkan hujan namun sekarang bias dibuat sumur atau bendungan persediaan air.
Dengan alasan itulah penulis ingin mencoba memahami pengertian serta hal-hal yang berkaitan tentang kebudayaan masyarakat  agraris. Adapun isi dari makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itulah perlunya kritik dan saran yang bersifat membangun demi menyempurnakan pembelajaran ini.





BAB II
Kebudayaan Masyarakat Agraris
1.      PENGERTIAN
Berbicara tentang masalah primitif, maka kita akan berbicara tentang kehidupan masyarakat desa. Begitu pula, kehidupan desa selalu dikaitkan dengan kehidupan agraris, yaitu kelompok masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di bidang pertanian. Desa sebagai penghasil pangan utama, menjadi tumpuan bagi masyarakat kota.
Menurut Bintarto, desa mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
  • Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, serta penggunaannya.
  • Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
  • Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan.
Maju mundurnya sebuah desa bergantung dari tiga unsur ini yang dalam kenyataannya ditentukan oleh faktor usaha manusia (human efforts) dan tata geografi (geographical setting). Adapun menurut Paul H. Landis, desa adalah daerah yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa.  Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Mempunyai pergaulan yang saling mengenal antara beberapa ribu jiwa.
  2.  Memiliki perhatian dan perasaan yang sama dan kuat tentang kesukaan terhadap adat kebiasaan.
  3.  Memiliki cara berusaha (dalam hal ekonomi), yaitu agraris pada umumnya, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan alam, seperti : iklim, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris bersifat sambilan.
Jadi yang dimaksud masyarakat pedesaan adalah sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu yang penghuninya mempunyai perasaan yang sama terhadap adat kebiasaan yang ada, serta menunjukkan adanya kekeluargaan di dalam kelompok mereka, seperti gotong royong dan tolong-menolong.
2.      CIRI-CIRI MASYARAKAT AGRARIS
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama anggota warga desa sehingga seseorang merasa dirinya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia hidup, serta rela berkorban demi masyarakatnya, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama di dalam masyarakat terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama. Adapun ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain; Setiap warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan warga masyarakat di luar batas-batas wilayahnya.
Sistem kehidupan pada umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Masyarakatnya homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Masyarakat itu sering disankut pautkan dengan petani biasanya mereka menggunakan alat-alat manual misalnya, menggunakan tenaga hewan untuk membajak sawah, cangkul, sabit dan sebagainya. Adapun mode produksi dalam bidang ekonomi biasanya berupa  Pertanian, pertambangan, perikanan, peternakan dengan cara tradisional. Sumber daya alamnya berupa angin, air, tanah, manusia,yang pada akhirnya mereka membutuhkan bahan mentah  atau alam sebagai penunjang kehidupan.

3.      KEGIATAN MASYARAKAT AGRARIS
Salah satu ciri khas dalam kehidupan masyarakat desa adalah adanya semangat gotong-royong yang tinggi. Misalnya pada saat mendirikan rumah, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya. Gotong royong semacam ini lebih dikenal dengan sebutan kerja bakti, terutama menangani hal-hal yang bersifat kepentingan umum. Ada juga gotong-royong untuk kepentingan pribadi, misalnya mendirikan rumah, pesta perkawinan dan kelahiran. Pekerjaan gotong royong terdiri atas dua macam, yaitu :
  • Kerja sama yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (diistilahkan dari bawah, tanpa ada paksaan dari luar)
  • Kerja sama dari masyarakat itu sendiri, tapi berasal dari luar (biasa berasal dari atas, misalnya atas perintah aparat desa)
Lebih dari 82 % masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian agraris. Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi, mereka bukanlah masyarakat yang senang berdiam diri tanpa aktivitas, tanpa ada suatu kegiatan, tetapi sebaliknya. Pada umumnya masyarakat desa sudah bekerja keras, namun mereka perlu diberikan pendorong yang dapat menarik aktivitas mereka, sehingga cara dan irama bekerjanya menjadi efektif, efisien dan berkelanjutan.
Di Indonesia, aktivitas gotong roypng biasanya tidak hanya menyangkut lapangan bercocok tanam saja, tapi juga menyangkut lapangan kehidupan social lainnya seperti:
a.       Dalma hal bencanya atau musibah, contohnya: kematian, sakit atau kecelakaan.
b.      Dalam hal pekerjaan rumah tangga, contohnya: memperbaiki atap rumah, menggali sumur, dll.
c.       Dalam hal pesta, contohnya: pernikahan, kitanan, dll.
d.      Dalam hal kepentingan umum, misalnya: membuat irigasi, jembatan, jalan, dll.

4.      PERKEMBANGAN MASYARAKAT AGRARIS
Masyarakat agraris sebenarnya tidak stagnan; mereka berkembang dan berubah seperti kita namun pada tingkatan laju yang lebih rendah. Perubahan lambat yang menjadi nyata selama berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun dan selama periode yang demikian kita dapat mencirikan kecenderungan jangka-panjang dari proses siklik dan kejutan acaknya. Kecederungan untuk menjadi sederhana didalam kehidupan masyarakat agraris selalu saja terjadi dan telah mengakar kuat. Masyarakat agraris mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungannya dengan alam tempat mereka hidup secara turun-temurun.


BAB III
KESIMPULAN
Masyarakat agraris adalah masyarakat yang menggantungkan kehidupannya dengan bercocok tanam baik di sawah dan di perkebunan. Kehidupan masyarakat ini masih jauh dari moderenisasi dengan kata lain mereka hidup sederhana secara tradisional. Adapun kebudayaan yang ada bersifat gotong-royong yang diidentik dengan adat istiadat pedesaan.
Mereka berkembang sangat lamban karena tekhnologi dan informasi masih minim serta pengetahuan dan skill yang terbatas. Hal itu menyebabkan mereka hidup dalam kesederhanaan. Namun ada juga masyarakat agraris yang hidup berkecukupan karena berbagai faktor seperti kekuasaan, berilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang memadai.
Penduduk desa juga terlibat dalam pekerjaan  di luar sector pertanian, seperti membuka warung makan, atau pergi ke kota disaat bukan musim panen. Biasanya mereka menjadi pekerja jalan atau buruh bangunan. Menjadi tukang warung diraskannya lebih menaikan gengsinya dari pada menjadi buruh tani, pekerja jalan atau tukang becak.
Dalam hamper semua komunitas desa, semua anggota pamong desa, dan para guru desa, pasti memiliki tanah , sawah, dan tegalan. Sebagian dari tanah itu di sewakan dan bagi hasil atau mereka gadaikan kepada petani lkain dan sebagian mereka kerjakan sendiri. Demgan demikian mereka lebih sering berada di sawah daripada dibelakang meja tulis atau di ruang kelas. Meskipun demikian mereka lebih senang di sebut sebagai pegawai pamong praja atau guru karena pegawai membuatnya lebih bergengsi.

0 komentar:

Poskan Komentar